PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memutuskan untuk melakukan penguatan modal guna mendukung ekspansi kredit. Keputusan ini diambil seiring dengan alokasi laba bersih BTN 2025 senilai Rp3,5 triliun sebagai saldo laba ditahan untuk mendukung ekspansi kredit ke depan. Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menjelaskan bahwa keputusan ini juga didorong oleh rencana pengambilalihan portofolio kredit yang telah diproses dalam jangka waktu panjang, mencakup kredit produktif dan konsumtif dengan nilai transaksi yang signifikan.
Berbagai opsi pendanaan telah dipertimbangkan, termasuk penerbitan surat utang, namun dianggap kurang efisien. Keputusan untuk tidak membagikan dividen diambil sebagai upaya menjaga efisiensi serta memperkuat kapasitas ekspansi. BTN menargetkan pertumbuhan kredit dan pembiayaan pada tahun 2026 sebesar 8–10 persen, dengan fokus pada segmen perumahan subsidi dan non-subsidi.
RUPST juga menyetujui pemberian kewenangan kepada Dewan Komisaris Perseroan untuk menyetujui rencana pengambilalihan portofolio kredit dari pihak ketiga. Nixon menyatakan bahwa akuisisi portofolio kredit tersebut memiliki profil imbal hasil dan kualitas aset yang lebih baik dibandingkan portofolio eksisting perseroan. Transaksi ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja keuangan BTN, dengan target NPL rasio turun di bawah 3 persen, pendapatan bunga yang lebih baik, dan total kredit melebihi RKAP.
Proses akuisisi ini masih berjalan, dengan target penandatanganan perjanjian sekitar pertengahan Mei. Dengan adanya langkah-langkah ini, BTN berharap dapat memperkuat posisinya dalam industri perbankan nasional.


