Kedutaan Besar Iran di Italia menegaskan bahwa reaksi Amerika Serikat terhadap laporan kemungkinan partisipasi tim nasional sepak bola Italia menggantikan Iran di Piala Dunia adalah tindakan ‘kebangkrutan moral’. Mereka menekankan bahwa sepak bola seharusnya menjadi milik rakyat dan bukan dijadikan alat politik. Penampilan gemilang Italia di lapangan sepak bola merupakan hasil dari prestasi yang dicapai di lapangan, bukan karena intervensi politik. Upaya untuk menyingkirkan Iran dari Piala Dunia dianggap sebagai tindakan ‘kebangkrutan moral’ Amerika Serikat yang tampak takut dengan kehadiran 11 pemain muda Iran di lapangan.
Sebelumnya, Presiden Komite Olimpiade Italia, Luciano Buonfiglio, menilai laporan mengenai kemungkinan penggantian Iran di Piala Dunia sebagai sesuatu yang menyinggung. Ia menegaskan bahwa hak untuk lolos ke Piala Dunia seharusnya diraih melalui jalur yang sah. Utusan khusus AS untuk kemitraan global, Paolo Zampolli, juga telah mengusulkan penggantian Iran dengan Italia di Piala Dunia mendatang. Hal ini terjadi di tengah ketegangan antara kedua negara Barat tersebut.
Menurut laporan surat kabar Financial Times, Presiden AS Donald Trump sedang melakukan diplomasi sepak bola untuk mengembalikan hubungan dengan salah satu sekutu utama NATO setelah terjadinya konflik terkait pangkalan militer dan kritik Trump terhadap Paus Leo XIV. Pada 31 Maret, Italia gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut setelah kalah dari Bosnia dan Herzegovina.
Dalam konteks ini, Kedutaan Besar Iran menegaskan bahwa sepak bola seharusnya tetap menjadi ajang kompetisi yang adil dan bebas dari campur tangan politik. Kontroversi tentang kemungkinan penggantian Iran dengan Italia menunjukkan kompleksitas hubungan politik di tingkat internasional. Keselamatan dan integritas turnamen sepak bola seperti Piala Dunia seharusnya tetap dijaga tanpa intervensi politik yang berpotensi merusak esensi olahraga tersebut.


