Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, mengajak masyarakat untuk menyesuaikan kebutuhan pangan mengingat kenaikan harga kedelai akhir-akhir ini. Sebagian besar kedelai yang beredar di DKI Jakarta berasal dari impor, meskipun ada pasokan lokal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Komoditas kedelai tersebut banyak digunakan oleh pengrajin tahu dan tempe di bawah PUSKOPTI DKI Jakarta yang tergabung dalam GAKOPTINDO.
Menurut Hasudungan, kenaikan harga kedelai dipengaruhi oleh faktor global seperti gejolak di negara eksportir terbesar kedelai, Amerika Serikat, dan penurunan nilai tukar rupiah. Data lapangan menunjukkan kenaikan harga kedelai sejak bulan Februari 2026, yang terus mengalami fluktuasi hingga saat ini. Hasudungan menyarankan agar masyarakat beradaptasi dengan harga yang naik ini dengan cara mengonsumsi komoditas pangan lain yang memiliki nilai gizi seimbang namun harga lebih terjangkau.
Selain itu, Hasudungan juga mengusulkan agar masyarakat mulai melakukan urban farming untuk memastikan ketahanan pangan keluarga secara mandiri di rumah masing-masing. Langkah-langkah ini diharapkan dapat meminimalkan dampak dari kenaikan harga kedelai. Dengan berbagai alternatif konsumsi pangan dan praktik pertanian perkotaan, diharapkan masyarakat dapat tetap terpenuhi kebutuhan pangan mereka.


