Sepp Blatter, mantan Presiden FIFA, mengecam keadaan saat ini di dalam FIFA di mana Gianni Infantino dianggapnya sebagai seorang diktator yang mengambil keputusan sendirian tanpa keterlibatan kolektif. Blatter juga menyatakan keprihatinannya terhadap dekatnya hubungan antara Infantino dan Donald Trump, terutama terkait penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat. Menurut Blatter, pemberian penghargaan perdamaian kepada Trump oleh FIFA hanyalah sebuah bentuk penghormatan karena negara tersebut menjadi tuan rumah turnamen.
Blatter juga menyoroti perlunya perhatian serius terhadap stabilitas politik dan situasi keamanan di Amerika Serikat menjelang Piala Dunia 2026. Dia menekankan bahwa sepak bola harus dapat mengatasi politik dan menjaga keadaan agar kondusif saat kompetisi berlangsung. Meskipun Blatter memiliki sejarah kontroversi di FIFA, dengan keterlibatannya dalam penyelidikan bersama Michel Platini, namun pada akhirnya keduanya diakui bebas dari tuduhan oleh pengadilan Swiss pada tahun 2025.
Dengan kritik yang diutarakan oleh Blatter terhadap situasi dalam FIFA dan hubungan politik yang mulai melibatkan olahraga sepak bola, pernyataannya tentu saja menimbulkan pertanyaan tentang transparansi dan independensi dalam organisasi tersebut. Menyoroti hal ini, pertimbangan akan dampak dari pengaruh politik terhadap olahraga menjadi sebuah perdebatan yang semakin relevan dalam konteks global saat ini.


