Hari Pelajar Internasional, yang diperingati setiap tanggal 17 November, memiliki sejarah yang bermula dari peristiwa tragis pada masa Perang Dunia II di Cekoslowakia. Pada tahun 1939, ribuan mahasiswa di Universitas Charles, Praha, Cekoslowakia, melakukan demonstrasi damai untuk memperingati kemerdekaan Republik Cekoslowakia ke-21 dan sebagai bentuk perlawanan terhadap pendudukan Nazi. Demonstrasi ini dibubarkan secara kejam oleh Nazi, menyebabkan luka parah dan penangkapan mahasiswa. Salah satu mahasiswa, Jan Opletal, bahkan meninggal akibat luka tembakan yang dideritanya.
Dua hari setelah kematian Jan Opletal, pada 15 November 1939, dilakukan aksi demonstrasi kedua untuk melawan rezim Nazi. Namun, Nazi kembali merespons dengan kekejaman, menutup universitas, menangkap lebih dari 1.200 mahasiswa, dan mengirim mereka ke kamp konsentrasi Sachsenhausen. Pada 17 November 1939, sembilan orang, termasuk delapan mahasiswa dan seorang profesor, dieksekusi tanpa pengadilan oleh Nazi.
Dua tahun kemudian, pada tahun 1941, Dewan Mahasiswa Internasional, terdiri dari mahasiswa pengungsi, menetapkan 17 November sebagai Hari Pelajar Internasional dalam sebuah pertemuan di London, Inggris. Tujuannya adalah untuk mengenang para korban yang dieksekusi pada tanggal tersebut serta melindungi hak-hak generasi muda dalam pendidikan.
Sejak saat itu, peringatan Hari Pelajar Internasional diisi dengan berbagai aktivitas pendidikan, seperti seminar, diskusi publik, dan kampanye terkait isu-isu pendidikan terkini. Meskipun peristiwa tragis tersebut, Republik Ceko dan Republik Slovakia sekarang menghormati peristiwa tersebut dengan menjadikan 17 November sebagai hari libur nasional. Peringatan Hari Pelajar Internasional tidak hanya bermakna sebagai perayaan akademis, tetapi juga sebagai penghormatan terhadap keberanian dan pengorbanan para pelajar masa lalu.








