Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat pada Jumat sore meskipun terjadi pelemahan bursa saham di berbagai negara Asia. IHSG ditutup naik 53,43 poin atau 0,71 persen menjadi 7.537,77. Hal ini dipicu oleh kondisi bursa regional Asia yang melemah akibat tarif timbal balik yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap beberapa negara. Di samping itu, survei sektor manufaktur China juga menunjukkan penurunan tidak terduga pada bulan Juli 2025.
Sementara itu, para pelaku pasar sedang menunggu laporan ketenagakerjaan AS periode Juli 2025 untuk memberikan wawasan baru tentang kondisi pasar tenaga kerja. Di dalam negeri, data dari S&P Global menunjukkan bahwa Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik menjadi 49,2 pada bulan Juli 2025, meskipun masih berada di bawah ambang netral 50 yang memisahkan ekspansi dan kontraksi.
Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa posisi neraca perdagangan Indonesia pada bulan Juni 2025 mencatatkan surplus sebesar 4,1 miliar dolar AS, menandai 62 bulan berturut-turut mengalami surplus. Inflasi tahunan Indonesia juga mengalami kenaikan menjadi 2,37 persen pada bulan Juli 2025, sedikit di atas proyeksi pasar. Kondisi inflasi yang terjaga memberikan kesempatan bagi Bank Indonesia (BI) untuk memangkas suku bunga guna mendorong pertumbuhan ekonomi.
Di pasar saham, IHSG mengalami kenaikan seiring dengan delapan sektor yang menguat, dipimpin oleh sektor infrastruktur. Beberapa saham yang mengalami kenaikan harga antara lain MINA, DSFI, dan FUTR. Frekuensi perdagangan saham juga tercatat tinggi, dengan sekitar 1.706.368 kali transaksi dan nilai sebesar Rp14,75 triliun.
Meskipun bursa saham regional Asia melemah, IHSG mampu bertahan di zona positif hingga penutupan perdagangan saham pada Jumat sore. Berbagai faktor baik domestik maupun global turut mempengaruhi pergerakan IHSG, yang tetap menjadi sorotan para pelaku pasar di tanah air.


