Tingkat literasi dan inklusi keuangan di Indonesia sebagian besar didorong oleh sektor perbankan. Menurut hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2025 yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi dan inklusi keuangan tertinggi masih berasal dari sektor perbankan, dengan angka masing-masing mencapai 65,50 persen dan 70,65 persen.
Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, masyarakat di sekitar kita umumnya sudah terbiasa menggunakan rekening bank. Angka literasi dan inklusi keuangan sektor perbankan ini mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, yaitu 2024.
Di sisi lain, lembaga keuangan mikro menempati posisi terendah dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, dengan literasi sebesar 9,80 persen dan inklusi 1,20 persen. Namun, literasi lembaga keuangan mikro mengalami peningkatan sedangkan inklusi mengalami penurunan dari tahun sebelumnya.
Hasil survei juga menunjukkan bahwa sektor pergadaian memiliki literasi keuangan tinggi di posisi kedua, namun inklusi keuangannya lebih rendah. Sedangkan sektor lembaga pembiayaan, perasuransian, dan LJK lainnya menunjukkan indeks literasi dalam rentang 42,77 persen hingga 46,66 persen.
OJK mengatakan bahwa hasil SNLIK 2025 menjadi dasar bagi mereka dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengembangkan kebijakan dan produk keuangan yang tepat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Mereka juga berkomitmen untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, terutama bagi kelompok-kelompok yang memiliki tingkat literasi atau inklusi rendah.








