Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sebagai momen penting untuk mengapresiasi kemajuan dunia pendidikan di tanah air. Peringatan ini sangat berhubungan dengan Ki Hajar Dewantara, yang diakui sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Ki Hajar Dewantara, yang lahir sebagai Raden Mas Soewardi Soerjaningrat pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta, berasal dari keluarga bangsawan Pakualaman. Meskipun tidak menyelesaikan pendidikan formalnya karena alasan kesehatan, ia telah berkiprah di dunia jurnalistik dengan menulis di berbagai surat kabar seperti De Expres dan Oetoesan Hindia. Kepeduliannya pada pendidikan mendorongnya mendirikan Perguruan Taman Siswa pada 1922, sebagai perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial dan untuk mencerdaskan rakyat bumiputra. Ki Hajar Dewantara dikenal dekat dengan rakyat dan memperjuangkan kesetaraan melalui jalur pendidikan dan kebudayaan lokal, serta menentang Undang-Undang Sekolah Liar tahun 1932 yang membatasi pendidikan rakyat. Wafatnya pada 26 April 1959 tidak menghapus warisannya, yang terus hidup dalam dunia pendidikan hingga saat ini, menjadikannya sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia.
Ki Hajar Dewantara memiliki kutipan-kutipan inspiratif tentang pendidikan seperti, “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu” dan “Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup. Pendidikan itu sendiri adalah kehidupan.” Pesannya tentang pentingnya pendidikan untuk kehidupan bersama, saling menghargai, dan saling mencintai sangat mendasar. Warisannya diwujudkan dalam berbagai pesan seperti, “Membaca adalah jendela dunia. Tetapi tidak hanya itu, membaca juga adalah sebuah kunci yang dapat membuka pintu-pintu rahasia ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.” Keseluruhan kutipan-kutipan ini menunjukkan kebijaksanaan dan visi Ki Hajar Dewantara dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif dan berdampak positif bagi masyarakat Indonesia.
Sebagai menteri dan tokoh pendidikan terkemuka, Ki Hajar Dewantara memperjuangkan hak-hak pendidikan dan kualitas hidup bagi semua orang. Beliau meyakini bahwa pendidikan adalah kunci untuk perubahan sosial dan kemajuan bangsa, serta bahwa setiap individu memiliki potensi untuk berkembang sesuai dengan kodratnya. Keterlibatan dan dedikasinya terhadap pendidikan tergambar dalam usahanya untuk menegakkan kesetaraan akses pendidikan bagi semua orang di Indonesia. Warisannya tetap relevan dan dihormati hingga saat ini, mendorong kita semua untuk terus menghargai dan memperjuangkan nilai-nilai pendidikan yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara.








