Peningkatan Tarif Air Minum PAM Jaya: Sebuah Langkah Logis
Kenaikan tarif air minum layanan Perumda PAM Jaya memang tengah menjadi sorotan. Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Nova Harivan Paloh, menjelaskan bahwa penyesuaian tarif tersebut merupakan langkah yang sangat logis. Ia menyoroti bahwa biaya pengolahan dan distribusi air terus meningkat, sementara tarif PAM Jaya sendiri tidak mengalami kenaikan selama 17 tahun terakhir.
Nova juga menegaskan bahwa air baku yang dibeli dari Perum Jasa Tirta II mengalami kenaikan setiap dua tahun. Meskipun mengalami penyesuaian, tarif air PAM Jaya masih tergolong paling rendah dibandingkan dengan kota atau provinsi lain di Indonesia. Dengan adanya pengelompokan jenis pelanggan, tarif ini juga dinilai sudah sangat memenuhi rasa keadilan.
Selain itu, peningkatan cakupan layanan air bersih dalam program 100 hari Pram-Doel juga menjadi sorotan. Nova menekankan pentingnya fokus pada ketersediaan air baku untuk menjamin suplai yang memadai. Meskipun Gubernur DKI Jakarta telah menetapkan target baru penyelesaian cakupan layanan 100 persen dari tahun 2030 menjadi tahun 2029, optimisme tetap hadir.
Tarif PAM Jaya tetap dianggap ekonomis meskipun terjadi penyesuaian. Penilaian ini juga didukung oleh Senior Manager Regional Timur Perumda PAM Jaya, Hilman Sandhi Nugraha, yang menjelaskan tujuh langkah strategis dalam program 100 hari kerja Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Langkah-langkah strategis ini meliputi pembagian penampung air, peresmian Instalasi Pengolahan Air, pemasangan sambungan rumah, peresmian Reservoir Komunal, peluncuran program Sanitasi Prima, dan pemasangan pemurni air di sekolah dan fasilitas umum.
Dengan berbagai langkah strategis dan penyesuaian tarif yang logis, diharapkan cakupan layanan air bersih di Jakarta dapat terus meningkat dan terjamin.








