Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan mengalami fase konsolidasi atau sideways, dimana pelaku pasar masih memantau perkembangan negosiasi tarif antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Proses negosiasi antara kedua negara telah mencapai beberapa poin penting, seperti rencana peningkatan impor komoditas dari AS, kerjasama hilirisasi, relaksasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), dan paket deregulasi. Menurut Senior Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan, IHSG diprediksi akan terus berada dalam rentang 6.300 hingga 6.550 dalam pekan ini.
Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto telah bertemu dengan United States Secretary of Commerce Howard Lutnick pada Minggu lalu untuk menyerahkan proposal negosiasi tarif. Proposal tersebut mencakup peningkatan pembelian dan impor produk energi dan produk pertanian dari AS. Lutnick mengapresiasi komitmen Indonesia dan menyatakan bahwa penawaran tersebut saling menguntungkan bagi kedua negara.
Selain itu, terdapat pertemuan teknis antara Tim Teknis Indonesia dan Tim USTR (United States Trade Representative) untuk menyusun format, mekanisme, dan jadwal negosiasi dengan target waktu 60 hari. Kedua belah pihak berharap bisa menyelesaikan pembahasan isu dalam waktu tersebut.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump kembali menekankan pentingnya pemangkasan suku bunga acuan kepada Ketua The Fed Jerome Powell. Di tingkat global, AS mengancam akan menarik diri dari upaya perdamaian antara Rusia dan Ukraina jika tidak ada perkembangan konkrit dalam beberapa hari ke depan. Selain itu, AS juga berencana untuk menekan ekspor minyak Iran hingga nol sebagai bagian dari perundingan yang sedang berlangsung mengenai fasilitas nuklir Iran.
Dalam konteks tersebut, IHSG diperkirakan akan tetap bergerak konsolidasi dalam minggu ini. Sentimen dari AS dan kondisi politik global dapat mempengaruhi pergerakan IHSG ke depan.








