Indonesian Business Council (IBC) telah menyarankan langkah-langkah mitigasi untuk mengatasi dampak kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) yang diberlakukan di bawah kepemimpinan Donald Trump. IBC menekankan pentingnya negosiasi ulang dengan AS dan perluasan perjanjian dagang dengan negara dan kawasan baru. CEO IBC, Sofyan Djalil, menegaskan perlunya upaya untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung industri terdampak, termasuk UMKM. Selain itu, IBC mendorong negosiasi multilateral dengan negara-negara ASEAN untuk menciptakan tatanan perdagangan yang lebih adil. Usulan empat langkah strategis yang diajukan oleh IBC mencakup juga renegosiasi perjanjian dagang, penguatan diplomasi dagang, dan percepatan penyelesaian perjanjian dagang yang sedang berlangsung. Pembahasan ini disambut baik oleh Ketua Dewan Pengawas IBC, Arsjad Rasjid, yang melihatnya sebagai kesempatan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam investasi dan perdagangan global. Kebijakan tarif AS diperkirakan dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi global, termasuk perdagangan nonmigas Indonesia dengan AS. Ada potensi peningkatan tensi dagang global jika tidak ada tindakan yang diambil. Dalam konteks ini, IBC mempertimbangkan perluasan kerjasama perdagangan sebagai langkah penting dalam menghadapi tantangan tersebut.








