Menurut Psikolog Meriyati, M.Psi, mengakui dan menerima emosi yang tengah dirasakan merupakan langkah awal yang penting dalam memaafkan orang lain, terutama di hari Lebaran 2025 atau Idul Fitri 1446 Hijriah. Hal ini penting karena memaafkan tidak hanya sebagai tindakan sosial, tetapi juga memberikan manfaat bagi kesehatan mental dan fisik seseorang. Sebuah studi juga menunjukkan bahwa memaafkan dapat mengurangi tingkat stres, meningkatkan kesehatan jantung, dan juga meningkatkan kesejahteraan emosional seseorang. Ketika seseorang menyimpan amarah atau dendam, tubuh akan melepaskan hormon stres seperti kortisol, yang jika terjadi secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan gangguan kecemasan. Oleh karena itu, meskipun tidak mudah, memaafkan merupakan tindakan yang sangat disarankan.
Untuk lebih mudah memaafkan, seseorang perlu mengakui emosi yang dirasakan dan menyadari bahwa memaafkan itu sebenarnya untuk kebaikan diri sendiri. Memaafkan bukan berarti menyetujui atau membiarkan pelaku lepas dari tanggung jawab, tetapi membebaskan diri dari beban emosional yang menguras energi. Selain itu, mencoba memahami alasan di balik tindakan orang lain juga dapat membantu dalam proses memaafkan. Meskipun memahami bukan berarti membenarkan tindakan tersebut, namun melihat konteks atau situasi yang mempengaruhi perilaku orang tersebut dapat membantu seseorang merasa lebih empati. Melatih empati dengan bertanya pada diri sendiri bagaimana jika berada di posisi mereka juga dapat membantu dalam proses memaafkan, selain itu menulis jurnal, berbicara dengan orang terpercaya, atau melakukan meditasi juga dapat membantu dalam meredakan emosi negatif dan memaafkan. Memaafkan memang sulit, namun dengan menerima emosi, mengelola emosi dengan baik, memahami sudut pandang orang lain, dan menyadari bahwa memaafkan itu lebih menguntungkan diri sendiri, bisa membantu seseorang dalam proses memaafkan.








